SELAMAT DATANG DI RHEYSHA'S BLOG.....
Popular 1:1 Traffic Exchange

Kamis, 10 Februari 2011

Kisah Badak Ceking dan Bebek Buruk Rupa

Badak kecil, tertatih berjalan membawa tubuh yang ceking dan mata sendu. Begitu polos, begitu lugu. Ikut bermain bersama yang lain. Badak yang pemalu mulai bermain, sedikit-sedikit membuka diri. Tapi jangan salah, meskipun begitu ia rajin sekali mengganggu si bebek. Entah apa yang ada di pikirannya. Setiap bertemu bebek sifat pemalu dan lugunya berubah. Mengolok-olok, menjahili hingga si bebek buruk rupa menangis.
Yach, hampir setiap hari ia melakukan itu.  Ia hanya berani dengan si bebek tak berani dengan yang lain. Bebek enggan bertemu dengannya. Setiap melihat badak di tengah lapangan atau di jalan sebisa mungkin ia menghindar. Tapi bukan si badak namanya kalau tidak kehabisan akal. Ia menunggu di jalan lain tempat biasa si bebek lewat. Dan... Sudah bisa diduga, bebek buruk rupa pun kembali menangis. Pulang ke rumah diikuti tawa si badak yang bangga dengan kejahilannya. Ketika kembali ke lapangan dengan yang lain, ia berubah menjadi lugu. Hmmm....si badak seperti mempunyai kepribadian ganda, itu menurutku. Tapi ada yang kusuka, senyum badak yang tulus meski tertutupi dengan wajah jahilnya.

Badak tidak tahu kalau hari itu, hari terakhir ia bertemu dengan si bebek buruk rupa. Esoknya ia menemukan lapangan dan jalan yang biasa dilewati bebek sepi. Tak terlihat sosok bebek sepanjang hari, bahkan celotehnya pun tak terdengar. Ia terus menunggu dan menunggu. Tapi tetap saja nihil. Bebek tak muncul. Ada yang hilang, entah lah badak pun tak tahu rasa apa itu. Bebek pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya.

Di suatu tempat, bebek sudah berada bersama teman-teman yang baru. Tak ada kejahilan seperti yang dilakukan badak, tak ada tangisan. Tapi ada yang hilang. Entahlah bebek pun tak tahu apa itu. Hari itu telah mengubah kehidupan bebek buruk rupa. Menjalani kerasnya hidup. Tak seperti di tempatnya dulu. Tempat dimana  ia menghabiskan masa kanak-kanak yang indah, meski sering menjadi korban kejahilan badak dan teman-temannya. tapi bebek senang dengan kejahilan mereka. Kini, bebek kesepian.

Waktu terus bergulir. Tak terasa....
Badak telah berubah menjadi sosok yang tangguh dan dewasa. Kehidupan telah menempanya untuk bertahan hidup. Tak jauh berbeda dengan si bebek. Bebek buruk rupa telah berubah. Bukan lagi bebek cengeng, bukan lagi bebek yang lemah. Ia telah menjelma menjadi bebek yang tegar, meski ia tekadang merasa tidak mempesona seperti bebek-bebek yang lain. Tak secanti mereka.

Entah suatu kebetulan atau rekayasa dari Sang Maha Kuasa.
Badak dan bebek bertemu, bertemu ditempat yang tak terduga. Bertemu dengan keterbatasan media. Tak secara langsung. Badak belum tahu seperti apa wujud asli si bebek begitu pula si bebek.

Kisah ini terhenti. Aku bingung apakah ini akan ku lanjutkan. Atau kubiarkan menggantung seperti ini. Hmm...aku pun tak tahu bagaimana kisah si bebek dan si badak selanjutnya. Biarlah ia mengalir sendiri, tanpa kutulis. Biarlah si badak dan si bebek yang melanjutkannya. Aku hanya bisa menjadi penikmat cerita mereka berdua.

Aku menunggu akhir kisah si bebek dan si badak. Akankah mereka bertemu di titik nol?. Tempat pertama kali mereka bertemu dulu, saling ejek, menghabiskan masa kanak-kanak mereka, dan memunculkan bibit rasa yang entah...akupun tak tahu apa namanya. Hanya mereka yang bisa merasaknnnya....