SELAMAT DATANG DI RHEYSHA'S BLOG.....
Popular 1:1 Traffic Exchange

Jumat, 05 April 2013

Jerawat Jomblo

Jerawat Jomblo
Oleh: Rheysha Itsuki

Pukul delapan malam @Kost-anku. Film favorit sedang diputar. Perhatianku sedang terbagi dua, tv seconds 14 inc (hasil patungan kami bertiga) dan cermin.
“Lagi ngapain bang?” tiba-tiba Pepeng duduk disebelahku seraya menekan tombol volume remote tv. Dia teman sekamarku. Sekarang ia naik kelas XI SMA. Nama aslinya sih Frangky, tapi kami lebih suka memanggilnya Pepeng. Sementara aku dan Ozy, teman sebangkuku, sudah kelas XII SMA. Kami bertiga nge-kost di tempat yang sama.
“Lagi makan nih. Huh, sudah tahu abang lagi mencet jerawat, masih nanya aja.”
“Hehehe...oooh..jerawat rupanya, hobby baru nih?Aku bantuin ya?” Ia melemparkan remote ke kursi dan mulai menghampiriku. Meneliti wajahku yang sudah kemerahan. Terlihat sekali binar di matanya. Kalau urusan mencet jerawat ia memang sangat antusias.
“Gak...gak, sana gih! Abang gak mau kayak kejadian kemarin. Bukannya malah bantuin ngilangin jerawat, eh malah jerawatnya makin meradang, makin tambah banyak.”
“Tapi gemes lihat jerawat abang, sudah banyak yang masak. Ibaratnya mangga yang siap panen.”
“Mangga...mangga...kalau mau panen mangga, sana aja ke rumah Rasty, pujaan hatimu,” Aku mulai menyeka salah satu jerawat dengan handuk yang dibasahi air hangat. Kesal juga lama-lama dibuatnya. Kesal dengan sikap Pepeng dan lebih kesal dengan jerawat yang gak hilang-hilang. Ampun deh....
“Yee..padahal kalau aku ke rumahnya, abang juga mau ikut kan? Kan ada kak...hmmm....siapa nama kakaknya Rasty bang?” Ia pura-pura mikir tapi tangannya jahil menekan jerawatku.
“AAAWWW...SAKIT TAHU!!!!”
“Hehehe....aku kan cuma nyicip dikit aja.”
Rasain...masa’ cuma jerawat aja jadi pelit. Huh...
“Gak tahu...tanya aja ma orangnya,” Aku mengusap jerawat yang dipencetnya. Rasanya minta ampun...sakit banget. Nyut-nyutan, mana tu jerawat paling montok. Aku menyikutnya pelan, berharap ia menjauh.
“Hmmm...,” Ia senyum-senyum sendiri, sesekali meliriku.
Pura-pura mikir kamu Peng. Aku harus nyiapin jurus nih. Siapa tahu ia mengincar jerawat yang lain.
“Kalau mau aneh jangan bawa-bawa abang ya, mana pakai acara senyum-senyum segala lagi. Sudah gih sana! Gangguin abang aja kamu nih,”
“Hehehe...oke-oke. Tapi aku tahu deh kenapa jerawat abang makin banyak. Pasti karena sering-sering mikirin kakaknya Rasty kan? Ngaku deh...bukannya orang jatuh cinta tu identik dengan jerawat,” katanya sok tahu, pura-pura mengacung-acungkan telunjuknya. Untung aku sigap, kalau gak? bakalan ada jerawat lain yang jadi korban.
Yeee...nggak kena
“Sok  tahu kamu? Siapa juga yang mikirin Risha?” Aku pura-pura sewot. Padahal saat nama itu ku sebut, perlahan-lahan dadaku berdesir indah. Seperti film bollywood yang ku tonton. Loh, kok pemeran utamanya berubah. Adegan lagi di taman bunga. Tiba-tiba aku jadi Shah Rukh Khan dan Risha jadi Kajol-nya (lebay banget). Aih...aih...mikirin dalam khayalan aja sudah senang, apalgi beneran. Aku mesem-mesem sendiri. Lupa dengan jerawat yang sedang nyut-nyutan.
Ssst...tahu gak aku aja gak pernah bertemu secara langsung dengan Risha sebelumnya, apalagi bicara face to face. Aku hanya melihat fotonya dirumahnya ketika aku bersama Frangky bertamu. Selebihnya hanya melalui hp karena Risha tidak satu sekolah dengan kami. Hanya dua minggu sekali baru pulang ke rumah karena ia tinggal di asrama. Dia seangkatan denganku. Mungkin ini tandanya cinta pada pandangan pertama. Tapi perasaan ini kucoba tutupi. Yang tahu hanya Pepeng dan Ozy.
“Tuh buktinya! katanya gak tahu namanya siapa. Iiihhh...mana pakai acara senyum-senyum segala. Ckckckck...ternyata benar. Cinta kadang membuat orang bisa lupa diri, senyum-senyum sendiri bahkan nyaris gila, Hahahaha...”
Buyar deh adegan taman bunganya. Benar juga kata Pepeng. Tapi apa benar aku jatuh cinta...ups...salah ding bangun cinta ma Risha. Agak kurang sreg aja dengar kata jatuh sebelum kata cinta. Kayaknya sakit plus menderita benar karena cinta. Hiks...hiks...
“Pokoknya selama jerawat abang belum hilang dan wajah belum kinclong. Abang  gak akan cari cewek. Abang akan menjadi jomblo.”
“Serius bang???” baru kali ini aku melihat ia begitu menaggapi perkataanku.
“Duariusss...seriuslah Peng.”
“Bahkan sampai mencoba mengambil hati Kak Risha abangpun gak mau?”
Lah, kok dadaku jadi sakit begini ya. Apa iya aku akan jomblo terus? Iya kalau jerawatnya hilang,nah, kalau gak? Duh..dilema jadinya. Tapi mau narik perkataan lagi, sudah terlanjur. Ya sudahlah...lihat saja nanti.
***
“Kalau saja di sekolah ada lomba siapa yang wajahnya paling banyak jerawat? Pasti pemenangnya aku Zy? Aku bosan dibilang jomblo gara-gara jerawat,” kataku waktu itu sambil memakan mie ayam. Ini curhat pertama ku pada Ozy setelah uring-uringan diledekin Rio and the Gank.
“Kamu yakin? Wajahmu kan gak parah-parah amat kok,” ia menghentikan suapannya seraya memeriksa wajahku.
“Kamu gak lihat jerawatku besar-besar nih, mirip bisul,” aku menunjuk jerawat terbesarku.
“Jangan gitu dunk Di. Belum tentu gak ada cewek yang gak suka sama kamu. Kamu kan orangnya pintar dan baik hati. Aku yakin pasti ada kok.”
“Tapi...”
“Kalau kamu gak percaya coba cara ini untuk membuktikannya. Jadi, belum tentu apa yang kamu pikirkan itu benar.”
“Maksud kamu?”
Ozy menghentikan suapannya. Meminum es teh dan mulai mendekat ke arahku dan membisikan sesuatu.
“Bagaimana? Baguskan?”
“Hmmm....oke, aku coba deh.”
Sebenarnya aku gak mau ambil pusing sih, tapi setelah mengikuti saran Ozy, pikiranku mulai berubah. Gak ada salahnya kan mencoba misi ini. Dia bilang jangan minder dan pesimis dulu dengan wajah berjerawat. Selama dua bulan dia nyaranin mencari teman-teman, kakak dan adik tingkat yang wajahnya banyak jerawat tapi harus diam-diam. Nah, kalau dalam waktu dua bulan ada yang lebih parah dari wajahku, berarti aku gak masuk nominasi wajah terbanyak jerawatnya. Aku tersenyum-senyum sendiri memikirkan ide kurang kerjaan ini.
Namun apa daya lewat dua bulan menjadi detektif pencari jerawat ke setiap kelas, aku gagal. Jarang sekali aku menemukan wajah mereka separahku. Ada sih yang waktu itu satu minggu jerawatnya banyak, aku sempat bersyukur merasa masih ada yang lebih parah dariku. Eh, setelah dua minggu wajahnya malah lebih bersih, jerawatnya juga hilang. Setelah diinterview ternyata dia meminum obat jerawat dan gak tanggung-tanggung harganya ratusan ribu. Weleh...weleh..mana cukup uangku untuk membelinya, uang bulanan saja pas-pasan belum lagi aku anti minum obat. Misi pun tak kulanjutkan. Nambah sakit hati plus frustasi. Belum lagi jerawat makin tambah banyak. Aku jadi malas mau mengurus wajahku. Sudah terlanjur kecewa berat.  Sempat  kutemukan kekecewaan di wajah Ozy ketika misi ini gagal. Tapi ia berusaha menyabarkanku. Masih ada cara lain, katanya.
***
Libur telah tiba, meski cuma satu hari. Tapi senangnya bukan kepalang. I’m Free today. Teman-teman di kost-an masih belum kelihatan akan keluar. Libur seperti ini biasanya mereka isi dengan mencuci baju, mencuci motor, bahkan ada yang masih tidur. Padahal aku mau mengajak mereka pergi. Tiba-tiba muncul sosok tak asing bin jahil. Tergesa-gesa ia menghampiriku seraya menunjukan hpnya.
“Bang kita ke rumah Rasty yuk sekarang?”
“Mau ngapain Peng? Abang mau bersihin motor nih,” aku menyemprotkan air ke ban. Lumayan kotor setelah ku pakai 6 hari ke sekolah. Dengan kondisi tanah yang mirip saus kacang. Sekarang kan lagi musim hujan.
“Kak Risha ada sms. Dia sudah di rumah. Kemarin datangnya. Ayo dunk bang! sekalian aku mau ketemu Rasty.”
“Kamu aja deh ya yang pergi. Abang belum siap, mana jerawat abang makin banyak” Aku mematut wajahku di kaca spion. Menghitung berapa banyak jerawatku yang bertengger. Aku harap mereka segera menyingkir dan musnah. Masih aja gak pe de.
Hehehe....abang kira aku gak bisa bawa abang kesana? Jangan panggil aku Frangky kalau aku gak punya seribu cara. Ho...ho...ho....
***
Semenjak pulang dari rumah Risha entah mengapa perasaan ini bergulir indah. Menembus batas-batas kewarasanku. Sampai membuatku bermimpi. Kami memang jarang berbicara panjang lebar, meskipun begitu kecanggihan teknologi ku manfaatkan. Sms pun dengan lancarnya melesat antara hpku dan hp Risha. Risha memang tipe yang pendiam ketika kami bertemu. Kalau tertawa tak pernah ia menampakan lebar-lebar giginya. Hanya tersenyum, didiringi dua buah lesung pipinya. Sikapnya sopan, tak pernah ku temukan kegenitan padanya, berbeda dengan gadis-gadis lain yang pernah kutemui. Memang ia gak cantik-cantik amat. Tapi ia punya pesona tersendiri. Itu menurutku. Ia jarang menatapku, pandangannya gak jauh-jauh dari lantai atau melihat ke arah yang lain.
Entah kenapa? Atau mungkin ia takut menatap wajahku yang seperti bulan purnama, penuh kawah. Atau...entahlah aku takut terlalu berandai-andai. Tapi ketika dia sms, aku sering tertawa geli. Ia humoris. Dan ini yang membuatku semakin penasaran dengan sosoknya yang lumayan misterius.
“Zy, malam ini kita ke rumah kak Rasty yuk? tadi siang kakak bilang ada bikin kue dan kita disuruh nyicipinnya,”
Pepeng tiba-tiba memecah kebisuan diantara kami. Padahal ibu kost belum selesai bicara mengenai dapur yang berantakan. Ozy membisu, sesekali ia melirik ibu kost kami yang masih menatap garang .
Peng..peng...kamu cari gara-gara aja...
Aku dan teman-teman sedang tak berani bersuara. Apalagi sebelum membicarakan masalah dapur,  kami sempat dimarahi habis-habisan oleh ibu kost. Beberapa orang diantara kami masih menunggak membayar sewa kost, belum lagi kost yang mulai kotor. Imbasnya tentunya kesemua anak kost. Kalau sudah begini, anak lantai satu dan dua saling menyalahkan. Ujung-ujungnya hampir berkelahi. Pepeng cepat-cepat menutup mulutnya, apalagi setelah melihat mata ibu kost kami yang melotot ke arahnya.
“Ini ni..anak jaman sekarang. Orang tua ngasi nasehat bukannya didengerin malah ngobrol sendiri?”
“Maaf Bu,” Pepeng tertunduk.
***
“Sebenarnya ada sesuatu yang mau Risha berikan untuk abang?”
“Kayak kejutan aja nih Sha, kamu mau ngasi apa?”
“Sha, ”panggilan sayangku untuk Risha. Padahal belum pernah sekalipun aku nembak dia. Ngaku-ngaku aja. Toh, dianya aja gak keberatan dengan panggilan itu. Ia tertunduk malu. Sebuah kotak kecil dengan bungkus kado berwarna orange, warna kesukaanku. Ya Allah mimpi apa aku semalam. Di hari lahirku ternyata ada juga yang ingat plus ngasi kado. Alhamdulillah.
“Apa ini? Gak usah repot-repot Sha, ” aku pura-pura menggaruk jerawatku. Padahal di dalam hati menebak.benda apakah gerangan di dalamnya. Dari bungkusnya kayaknya nih hadiah pasti gede.
“Abang buka aja deh..,” wajah putihnya bersemu merah. Ia masih tertunduk.
“Hmmm...baiklah, abang mau lihat kejutan apa yang Sha berikan,” tanganku gak sabar membuka kado itu. Step pertama masih lancar. Tapi step selanjutnya? Ampun dah nih kado apa kado sih? Banyak banget kotak di dalamnya. Kotak di dalam kotak. Nafasku semakin memburu, padahal hampir ngos-ngosan juga membuka nih kotak. Hmmm...seperti kataku dulu, wanita penuh misteri dan membuat penasaran. Saking penasarnnya aku gak melihat ekspresi dia yang aneh bin ngeri melihatku merobek-robek bungkusan kado tanpa ampun.
Nih orang girang apa kesambet ya? Sampai segitunya. Padahal kalau ia tahu hadiahnya, bakalan marah gak ya sama aku.
Dan akhirnya....
“Apaan nih?” aku mengamati benda kecil ditanganku. Bentuknya kecil seperti botol salep transparan. Aku membuka tutupnya. Isinya berwarna putih.
Week...hufh....kaya’ bau obat nih barang.
“Aa...aa..Abang gak suka ya hadiahnya? Sudah terbukti manjur bang, dulu Risha juga pakai kok” barulah ia menatapku, wajahnya sendu. Mungkin karena melihat ekspresi ku yang berlebihan tadi.
“Ehmmm....suka kok, abang suka banget. Tapi kalau abang boleh tahu, nih apaan ya? Kok kayak bau obat sih Sha?”
“Memang itu obat bang...”
“O..obat, obat apa?. Apa obat untuk memutihkan badan atau obat untuk...” asal aja aku bertanya sambil meneliti botolnya.
Mudah-mudahan dia gak bilang kalau ini obat untuk itu ya Allah...aku mohon jangan...
Risha terdiam. Tanganya tak henti meremas ujung bajunya. Aku pun semakin penasaran.
Waduh...kayaknya bener nih obat untuk itu. Tapi gak ding, aku yakin pasti gak...tapi kalau ya?...
“Maaf bang, tapi abang gak marah kan kalau Sha bilang itu obat jerawat.
Prakkkkk....pikiranku retak. Tuh kan benar...gak bisa nih.
Dan egonku pun berbicara.
“Ngapain kamu ngasi abang obat beginian. Apa kamu pikir wajah abang jelek banget karena jerawat. Oh, pantesan kamu kalau lihat abang gak pernah lama-lama, ya kan?”
Hiii....ternyata kalau marah galak juga nih abang. Padahal orangnya manis. Ups....duh...mau ngomong apa nih? Dia kok bawa-bawa jelek segala sih.
“Nih ambil! Abang gak butuh ini. Terima kasih atas kadonya,” aku segera pergi.
Gak nyangka bakalan kayak gini. Risha yang ku sayang ternyata...
“Abang tunggu bang...!”
Aku gak peduli...biarin...teriak aja sampai kering.
“Bang...tunggu dulu bang...Risha mau jelasin semuanya,”
Hmm...Tapi, kasihan juga nih anak. Apa perlu aku berhenti dan mendengarkannya? Bodo amat..harga diriku sudah pergi nih. Gak bisa...berhenti-gak-berhenti-gak-berhenti.. Ah, kasihan dia.
Wajah Risha memerah, nafasnya tersengal. Setengah berlari mengejarku.
“Maafin Sha bang, Sha gak tahu kalau jadinya begini. Tapi benar bang Sha gak ada maksud untuk nyakitin hati abang,” aku masih diam.
“Risha ngelakuin ini karena...ehmm...karena Sha...”
Penasaran juga nih.
“Karena apa?’
“Karena...ehmm...karena Sha gak mau bang Dion jadi jomblo selama gak berhasil ngilangin jerawat.
Deg....akhirnya...
Di belakang pohon aku melihat Pepeng dan Ozy cekikikan mengintip kami. Pasti ulah mereka pikirku. Siapa lagi orang yang membocorkan rahasia kalau aku akan jadi jomblo sebelum jerawat gak hilang. Gak apa-apalah aku malah bersyukur mempunyai teman seperti mereka.
***
Satu bulan berlalu. Wajahku sudah mulai bersih dari jerawat. Manjur juga sarannya Risha. Karena kebaikan mereka  waktu itu, sore ini aku mentraktir mereka mie ayam.
“Hmm...Sha, boleh abang tahu kenapa Sha memberikan abang obat itu sebulan lalu”.
Kulihat kepanikan diwajahnya. Ia menggigit bibir.
“K..kaa..Kan Sha bilang, Sha gak mau abang jadi jomblo sebelum jerawatnya hilang. Abang kan orangnya baik dan pintar,” Ia buru-buru meminum es jeruk sepertinya menutupi kegugupannya.
“Oh, hanya itu?” pancingku.
Ia mengangguk cepat. Di depan kami Ozy dan Pepeng dengan lahap menghabiskan mie ayam. Sepertinya tak berminat dengan pembicaraan kami.
Mereka sahabat terbaikku.
Semakin hari aku merasa semakin akrab saja dengan Risha? Apakah perasaan ini sama dengan yang ia rasakan? Setelah dekat dengan Risha aku banyak mengambil pelajaran. Ia sering bercerita dulunya wajahnya seperti diriku, bahkan lebih parah dan sering diejek teman-temannya. Tapi ia selalu optimis mencari solusi. Karena gak ada orang yang gak bisa berubah, kecuali karena kemalasan. Risha mencari tahu dengan konsultasi ke dokter kulit. Meski diberikan obat, dia juga tidak lupa mengkonsumsi makanan sehat, rajin membersihkan wajah dan berolahraga. Jika gak ada perubahan berarti itu anugerah dan patut disyukuri. Wajah juga gak menjamin kebaikan hati seseorang. Ia dapat berubah seiring dengan perjalanan waktu, tetapi tidak dengan hati. Jadi, kalau masih ada yang minder karena jerawat di wajah dan takut menjadi jomblo, ya jangan sedih dulu, katanya. Justru harus dibuktikan bahwa jerawat dan jomblo gak menghalangi kita berprestasi. To be High Quality Jomblo.
***


Bumi Uncak Kapuas, 08 September 2011
                                                                                    Pukul 10:42 WIB

Rabu, 09 November 2011

My Journey

Perjalanan ke Kota Seribu Kenangan


Pontianak, 21 April 2011 Setelah 12 tahun kepergian Bapak dan 2 hari sebelum kepulanganku ke Bumi Uncak Kapuas.
Setelah  ziarah hari ini di Singkawang aku menemukan banyak pengalaman bahkan menjadi sebuah renunangku. Hari ini aku tersadar, kenapa hal ini tidak terjadi semenjak dahulu? Tapi, pengandaian itu tidaklah baik. Sungguh rekayasa Allah SWT sangat indah pada hari ini dan itu bukanlah terlambat. Subhanallah...satu persatu ibrah mendatangi ku, mulai dari episode silaturahim hingga ibrah tentang cinta sejati.

Prolog
Singkawang. Aku menyebutnya kota seribu kenangan. Masa kanak-kanak yang indah hanya bisa ku temukan di kota itu, meski tak lama. Hanya sepuluh tahun saja. Tapi memori di tempat ini tak akan pernah terganti di tempat mana pun. Masa menyenangkan bersama teman-teman dan sahabat. Tempat-tempat masa lalu yang hingga kini masih membekas di hati dan pikiranku. Komplek perumahan guru SMP 5 (tempat tinggal pertama keluargaku), Kompleks SDN 13 (Tempat tinggal ke dua keluargaku), Rumah di Jalan Tani Gg. Melati Putih (Sayang, beberapa minggu sebelum menempati rumah baru, Bapak sudah berpulang ke Rahmatullah. Rumah itu hanya tinggal kenangan), Taman Burung (tempat bermain bersama Bapak, adik dan sahabat-sahabatku), Pasar Tengah (rindu mie tiaw goreng dan es campurnya), Orbit/Bioskop (rindu bakso dan es buahnya), pasar Hongkong (tempat nongkrong keluarga di malam minggu), Rumah makan Pagaruyung (hmmm...masakannya yummy..), Kue Bongko, Bakpao, Sotong Pangkong. Aromanya masih teringat sampai sekarang. Ah, masih banyak tempat-tempat lain yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Episode 1, Ziarah
Sebelum ketempat tujuan aku bertemu teman lama. Bang Randi di jalan. Tetangga dan teman bermain semasa kecil. Dia semakin makmur saja. Padahal awal-awalnya aku tidak mengenalinya dari jauh. Tapi ketika kami berpapasa di mesjid At-Taqwa (tempat TPA ku dulu), aku baru tersadar.Bukankah itu Bang Randi dengan seragam kantor dinas perhubungan plus mengendarai motor besarnya. Aku memanggilnya dan dia pun membalas. Meski ia sedikit terkejut. Sayang hari ini aku tak sempat main ke rumahnya.
Kapan bisa bertemu dengan Three Musketeres { Bang Ade (Bang Ngah), Bang Randi, dan Bang Yanshyah (Bang Su)} lagi ya???
Setiap kali aku berziarah, entah kenapa aku selalu merinding dan sedih. Merinding seakan akan aku merasakan bagaimana sakitnya sakaratul maut dan sedih melihat makam-makam sunyi. Berpenghuni tapi tak bersuara. Meninggalkan yang mereka cintai. Istri, suami, anak, harta dan jabatan. Yang dibawa hanya amal ibadah, ilmu dan doa anak yang sholeh. Aku hanya sendiri membersihkan makam bapak. Hening. Aku ingin menangis, tapi kutahan. Ada rasa rindu yang membuncah. Rindu akan kasih sayang beliau, rindu bujukan beliau dikala aku menangis, dan rindu dekapan beliau. Aku memejamkan mata merasakan seolah-olah aku kembali kemasa dulu. Sewaktu beliau masih ada. Berusaha menyusun memori mengingat wajah beliau dan merasakan getar-getar suaranya yang tak lagi utuh, bahkan nyaris terlupa. Bapak...aku kini kembali dihadapan makammu. Menunaikan janji empat tahun dulu. Bahwa aku akan kembali lagi kesini jika aku sudah wisuda. Hari ini kutunaikan janjiku. Tapi ini bukanlah janji terakhir, aku akan kembali lag. Kembali dengan diriku yang sudah sukses, kembali dengan membawa ibu dan adik untuk mengunjungimu, dan kembali dengan keluarga kecilku.
Bapak...terima kasih atas gen yang mengalir ditubuhku, banyak orang yang mengenalmu mengatakan aku mirip denganmu. Fisik dan kecerdasanmu mengalir padaku. Dulu aku sempat tak suka. Tapi lama kelamaan aku bisa menerimanya. Aku tak bisa lari dari kenyataan. Dan itulah aku. Like father like daughter. Ya Rabb, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil. Ampuni segala dosa mereka dan terimalah amal ibadah mereka.amin ya rabbal alamin.

Episode 2, Silaturahim
Sungguh jika ingin mengetahui dan belajar tentang arti sebuah kehidupan, tanyalah pada seseorang bijak yang sudah lama hidup. Seraya menyantap makan siang yang sederhana kami mulai bercerita. Aku dan pamanku, paman Umar. Pamanku ini sudah berumur, kalau ku taksir sekitar 60-an. Suapan pertama masih seputar masalah kuliahku dulu, tapi begitu suapan selanjutnya. Aku tak mampu untuk menyantapnya, bukan karena rasanya yang tidak enak. Sungguh hidangannya begitu nikmat. Tapi kata-kata beliaulah yang membuatku berpikir menghentikan sejenak suapanku.
“Benarlah hadis Rasulullah, Jika ingin berusia panjang dan murah rezeki maka perpanjanglah silaturahim”. Kata-kata ini sungguh dasyat dan efeknya benar-benar aku rasakan. Bagaimana tidak? Sebelum aku sampai di kota ini dan bertemu mereka aku sebenarnya sedang sakit, dan tak ada seorangpun yang tahu, begitu juga ibuku. Tapi karena azzamku yang sudah bulat, maka beberapa hari sebelum keberangkatan sakitku mulai memulih. Begitu juga dengan rezeki yang dberikan Allah SWT.  Jika kupikir-pikir tidaklah cukup kantongku untuk kesana apalagi uang yang ku keluarkan untuk wisuda kemarin tidaklah sedkit. Tapi aku percaya bahwa Allah akan memberikan rezekinya dari segala penjuru.
Episode ini masih berlanjut, aku kemudian mulai mengunjungi guruku sewaktu SD dulu.Ibu Rosmini namanya. Beliau sempat tidak mengenaliku. Beliau juga semakin cantik. Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengubah semuanya, begitu juga fisiku. Banyak hal yang kami bicarakan dari sekolah yang dulu masih beraw dan  becek. Masih teringat olehku ketika aku, Meidi, Glatika, dan Dessy (sahabat masa kecilku) mencari ikan tembakul. Ikan yang di atas kepalanya ada titik putih bercahaya. Tak kusangka sekolahku itu kini pernah menjuarai adipura. Subhanallah...begitu banyak kemajuan yang tak kutahu. Aku juga masih ingat dengan anak-anak beliau Zul, Aat, dan Bayu. Meski mereka tak mengenaliku. Kalau ingat masa SD dulu, aku jadi ingat teman sepermainanku, Meidi, Desi, Glatika, Ulan, Niswi, Linda, Belvi, Yulizar, Suryati, Apriyanti dan lain-lain.
Setelah pertmuan dengan Ibu Rosmini, kali ini langkahku tertuju pada satu rumah. Rumah yang posisinya masih seperti dulu. Tak banyak yang berubah, hanya renovasi yang semakin mempercantik rumah. Kali ini rumah Ibu Ernani, wali kelasku dulu di kelas 3 SD dulu di Singkawang. Beliau juga tidak banyak berubah masih ramah seperti dulu, ceria dan suka bergurau. Sungguh aku rindu dengan beliau begitu juga dengan Pak Supriyadi, suami beliau. Ketua RT kami dulu. Bapak juga masih tidak banyak berubah, masih tetap gagah. Dan yang terakhir adalah bang Yansyah, hehehe. Abang juga tak banyak berubah ceria selalu dan tentu saja sudah dewasa. Waktu aku berkunjung ia juga yang membuat dan  menyuguhkan minuman untukku.
Ya Rabb...jika aku ingin jujur sebenarnya aku iri terhadap keluarga mereka, terutama bang Yansyah.  Abang sungguh beruntung memiliki oraang tua yang masih lengakap bahkan hingga ia sedewasa ini. Aku sangat senang berada ditengah mereka meski hanya sebentar. Aku rindu suasana keluarga seperti ini. sangat ku rindu.ada canda, tawa, sungguh seakan-akan aku ingin itu terjadi padaku. Allhamdulillah ya Rabb...Engkau mempertemukan aku dengan mereka sehingga aku banyak belajar sebelum melangkah ke lembaran baru di kehidupanku.

Episode 3, Cinta Sejati
Akankah ketika fisik sudah tua, rasa cinta masih sebesar seperti pertama kali menikah? Masih semesra dahulu dengan kata-kata sedikit gombal kepada pasangan? Sebenarnya aku tak begitu yakin, hingga hari ini di hadapanku contoh itu sungguh nyata. Itu terjadi kepada paman dan bibiku. Bibiku sekarang mengalami stroke ringan, meski ringan tapi beliautidak bisa berjalan dan makan pun hanya boleh yang lembut-lembut seperti bubur. Subhanallah rasa cinta itu begitu terlihat di mata dan tindakan mereka. Ketika bibi tak bisa bergerak dan makan. Paman dengan sabar dan penuh kasih sayang menyuapinya. Bibi sebenarnya di rawat di RS. Tapi kata paman lebih baik di rawat di rumah saja, ada yang mengurus. Ini lah pengorbanan, biarlah paman dibilang baby sitter yang penting bibi bisa cepat sembuh. Ya rabb, pasangan ini sungguh membuatku iri dan cemburu dua kali. Akankah aku menemukan psanagn sejatiku seperti mereka? Yang setia menemaniku meski fisik tak sebugar dan seindah dulu. Akankah aku memilikinya? Cinta seperti inilah yang ingin kurasa. Cinta yang hanya bisa terpisah oleh maut.

Epilog
AKU BERUNTUNG MEMILIKI KELUARGA, TEMAN DAN ORANG-ORANG YANG BISA KUCINTAI DAN MENCINTAIKU.
TERIMA KASIH YA RABB...SUNGGUH IBRAH INI TAK AKAN AKU LUPA.
Ya Rabb...Bawa aku kembali ke masa indah itu, walau sesaat saja.

Senin, 03 Oktober 2011

DAFTAR PEMENANG LOMBA CIPTA CERPEN PEMUDA TAINGKAT NASIONAL TAHUN 2011



PRESS RELEASE
LOMBA CIPTA CERPEN PEMUDA TAINGKAT NASIONAL
TAHUN 2011 

Dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-83 Tahun 2011, melalui Asdep Peningkatan Kreativitas Pemuda, Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda, Kementerian Pemuda dan Olahraga, telah melaksanakan Festival Pengembangan Kreativitas Pemuda di Bidang Sastra, Seni dan Budaya salah satunya adalah Lomba Cipta Cerpen Pemuda Tingkat Nasional Tahun 2011 yang penjuriannya telah dilaksanakan pada tanggal 24 September 2011.  
Kegiatan lomba ini berhasil menarik perhatian dan kecintaan pemuda terhadap sastra dan proses kreatif penciptaan karya sastra. Adapun jumlah naskah cerpen yang masuk kepanitia penyelenggara sebanyak 612 dan yang lulus seleksi administrasi sebanyak 429 naskah dari berbagai wilayah dan jumlah ini naik cukup signifikan yang bila dibandingkan dengan pelaksanaan tahun sebelumnya sebanyak 326 peserta. 
Setelah melalui proses penilaian oleh Tim Dewan Juri yang mempunyai kompetensi di bidang seni sastra, maka berdasarkan Berita Acara Tim Dewan Juri ditetapkan Surat Keputusan Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda tentang pemenang Lomba Cipta Cerpen Pemuda Tingkat Nasional sebagai berikut : 
  1. Juara I Al Muttaqin dari Jambi;
  2. Juara II Guntur Aalam dari Sumatera Selatan;
  3. Juara III Yudhistira dari Sumatera Barat;
  4. Juara Harapan I Mulyani Hasan dari Kepulauan Riau;
  5. Juara Harapan II Muhammad Amir dari Jawa Barat;
  6. Juara Harapan III Iman Santosa dari Kalimantan Barat;
  7. 14 Nominator sebagai kategori karya cerpen terbaik masing-masing kepada : Arif Hidayat (Jawa Tengah), Lis Triyanti (NTT), Sugiarti atau Nafi’ah Al-Ma’rab (Riau), Hendri Teja (Jawa Barat), Hammidun Nafis (Jawa Tengah), Sungging Raga (Jawa Timur), Risang Anom Pujayanto (Jawa Timur), Ahmad Ijazi Abdullah (Riau), Alvina Hafiza (Bengkulu), Habibah (Sulawesi Selatan), Kemal Anshari Elmizan (DKI Jakarta), Khanifah (Jawa Tengah), Mahwiyanto atau Mahwi Air Tawar (Jawa Timur), dan Restu Afriyani atau Rheysha Itsuki (Kalimantan Barat).

Al Muttaqin sebagai pemenang pertama, melalui cerpennya berjudul “Perempuan yang Membelah Bulan”  yang dalam cerpen tersebut Al Muttaqin menceritakan secara baik pemberdayaan masyarakat pedalaman di Jambi.  
Seluruh cerpen karya pemenang dan nominator akan dibukukan dalam bentuk antologi cerpen pemuda, yang nantinya akan dikirimkan kepada pemenang lomba selain juga uang pembinaan, piagam penghargaan dan trophy Kementerian Pemuda dan Olahraga, sedangkan ke 14 nominator hanya mendapatkan Piagam Penghargaan dan kumpulan Cerpen terbaik. 
Imbal tanda jasa berupa uang pembinaan akan ditransfer ke Nomor Rekening atas nama pemenang lomba cipta cerpen pemuda Tingkat Nasional Tahun 2011 masing-masing : 
  1. Juara I  Rp. 7.000.000,-
  2. Juara II  Rp. 6.000.000,-
  3. Juara III  Rp. 5.000.000,-
  4. Juara Harapan I Rp. 3.000.000,-
  5. Juara Harapan II Rp. 2.000.000,-
  6. Juara Harapan III Rp. 1.000.000,-

 
Jakarta, 29 September 2011 
Asisten Deputi
Peningkatan Kreativitas Pemuda,
Sebagai Penanggungjawab Kegiatan

 
Dra. Marheni D Kusumawati, M.Pd

From: http://www.kemenpora.go.id/pdf/PEMENANG_CERPEN.docx.


Senin, 11 April 2011

Ayam Kodok.......hmmm...Yummy...

 Lagi asyik browsing resep-resep masakan..eits ketemu resep dengan nama rada aneh bin unik. Sepertinya patut dicoba ne...yuks...mari intip cara membuatnya...

AYAM KODOK

Bahan Isi:
1 ekor ayam sekitar 800 gr, ambil dagingnya saja (kulitnya tetap utuh)
250 gr daging ayam giling
250 gr daging sapi giling
2 potong roti tawar, rendam dalam air, kemudian peras
1 butir telur ayam besar
1 sdt gula
1 ½ sdt garam
½ sdt merica
¼ sdt chicken powder (kaldu blok/bubuk)
¼ sdt pala
4 butir telur rebus (untuk isi pada ayam)
Pengoles :
1 sdm margarin
1 sdm madu
1 sdm kecap manis
¼ sdt pala
½ sdt merica
Saus :
3 sdm mentega
2 sdm terigu (cairkan dengan 100 ml kaldu dari 500 ml kaldu yg tersedia)
5 sdm kecap manis
3 sdm kecap inggris
1 bawang bombay, cincang kasar
500 ml kaldu
2 sdt garam
2 sdt gula
½ sdt merica
½ sdt pala
Cara Membuat ayam kodok :
1. Aduk semua bahan Isi ayam kodok sampai rata (kecuali telur rebus untuk isi).
2. Masukkan adonan isi ke dalam kantong segitiga. Potong bagian ujung plastik
segitiga.
3. Isikan adonan isi ke kulit ayam.
4. Masukkan telur rebus di 4 bagian, di samping sayap kiri-kanan dan samping paha
kiri-kanan.
5. Isi kulit ayam dengan adonan sampai penuh dan bentuknya seperti ayam
utuh.
6. Jahit bagian leher dan bagian bawah ayam (utuhkan bagian "brutu-nya") kemudian
tusuk-tusuk ayak kodok supaya saat dikukus tidak robek.
7. Kukus selama 1 jam
8. Angkat, hias sesuai selera dan siap dihidangkan.
Cara memasukkan isi
Cara membuat kantung kodok

Sabtu, 02 April 2011

Mungkinkah???....


Tak perduli bagaimana aku berpikir, mungkin itulah cinta
Sebuah kenangan yang telah terhapus
Kini, akhirnya aku mengerti perasaan itu
Kini, yang tersisa hanyalah bayanganmu
Kini... semua yang tersisa
Hanyalah bayangan sosokmu yang dingin
Meninggalkan diriku yang gemetar dan merana
Lama sekali, aku menatap gerbang
Berharap kau akan datang ke sisiku
Di pagi hari, aku menatap keluar jendela dan berkata
Sesuatu yang dinamakan cinta, dan berkejaran dengan waktu
Yang berlalu dengan cepat dan tenang seperti angin
Cinta seperti itu, aku sangat merindukannya
Semua yang tersisa dalam diriku hanyalah perasaanku
by hong min jung

Kamis, 17 Maret 2011

Test Kepribadian

Attention: Test ini hanya sebuah permainan. Boleh Percaya, Boleh Tidak. Hanya sekadar iseng2...
Test ini dikutip dari www.yousaytoo.com
 
> > Guys, you must try this! tapi kalian bener-bener jangan ngeliat jawabannya di bawah ya. kamu ikutin aja instruksinya, dijamin deh bakal kaget kalo liat hasilnya, aku aja masih terheran-heran dan geleng-geleng kepala. tapi mikirnya jangan lama-lama, apa yang ada di hati kamu aja tapi bukan berarti asal-asalan lho! enjoy!
> >
> > Psikotest ini diambil dari email internet, diterjemahkan oleh orang tersebut dari bahasa asalnya Japanese (Jepang). Anda akan menemukan hasil yang sangat mengejutkan.
> >
> > Orang yang memikirkan game ini, konon sesudah membaca mail ini, harapannya dapat terkabul. Pasti anda akan terkejut melihat hasilnya!!!
> >
> > Cuma janji dulu!
> >
> > JANGAN MEMBACA JAWABAN
> >
> > DIBAWAHNYA TERLEBIH DAHULU.
> >
> > IKUTI DULU INSTRUKSI YANG DIMINTA.
> >
> > BACA SATU PARAGRAF DEMI SATU PARAGRAF.
> >
> > Pertama-tama siapkan bolpen dan kertas.
> >
> > Waktu memilih nama, anda harus memilih orang yang anda kenal. Jangan terlalu banyak mikir, tulislah apa yang ada di kepala anda.
> >
> > INGAT : Maju satu paragraf per paragraf.....
> >
> > Kalau anda membaca kelanjutannya, permohonan anda tidak akan terkabul.
> >
> >
> >
> > 1. Pertama-tama tulis angka 1 sampai sebelas di kertas anda secara vertikal (atas ke bawah)
> >
> > 2. Tulis angka yang paling kamu senang (antara 1-11) disebelah angka No.1 dan 2
> >
> > 3. Tulis 2 nama orang (lawan jenis) yang kamu kenal, masing-masing di No.3 dan No.7.
> >
> > 4. Tulis 3 nama orang yang kamu kenal di No.4, 5, dan 6. Disini kamu boleh menulis nama orang di keluarga, teman, kenalan. Siapapun OK. Cuma harus yang kamu kenal!
> >
> > 5. Di no.8, 9, 10 dan 11 kamu tulis nama judul lagu yang berbeda-beda!
> >
> > 6. Terakhir, tulis kamu punya permohonan.
> >
> > (kamu minta permohonan)
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > NAH, dibawah ini ada jawaban dari psikotest-nya mudah-mudahan cocok jawabannya.
> >
> > 1.. Anda harus memberitahu ke orang yang anda tulis di No. 7 tentang psi kotest ini.
> >
> > 2.. Orang yang anda tulis di No.3 adalah orang yang kamu cintai.
> >
> > 3.. Orang yang anda tulis di No.7 adalah orang yang kamu suka, tetapi bertepuk sebelah tangan.
> >
> > 4.. Orang yang anda tulis di No.4 adalah orang yang anda rasa paling penting bagi anda.
> >
> > 5.. Orang yang anda tulis di No.5 adalah orang yang paling mengerti tentang anda.
> >
> > 6.. Orang yang anda tulis di No. 6 adalah orang yang membawa keberuntungan pada anda.
> >
> > 7.. Lagu yang anda tulis di no. 8 adalah lagu yang ditujukan untuk orang No.3
> >
> > 8.. Lagu yang anda tulis di no.9 adalah lagu yang ditujukan untuk orang No.7
> >
> > 9.. Lagu yang anda tulis di no.10 adalah lagu yang melukiskan apa yang ada di hati anda.
> >
> > 10.. Terakhir, lagu yang anda tulis di No.11 adalah lagu yang melukiskan hidup anda.
> >
> >
> >
> > BAGAIMANA APAKAH CUKUP JITU ??????
> >
> > Anda harus post bulletin ini dalam kurun waktu 1 jam setelah anda membukanya.
> >
> > Dengan begitu, permohonan anda akan dikabulkan. Kalau anda tidak mengirimkannya, niscaya permohonan anda akan terjadi yang sebaliknya